Senin, 23 April 2012

Askep fraktur


FRAKTUR

A.DEFINISI
·                  Fraktur adalah putusnya hubungan normal suatu tulang atautulang rawan yang disebabkan oleh kekerasan. (E. Oerswari, 1989 :144).
·                  Fraktur atau umumnya patah tulang adalah terputusnyakontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2000 : 347).
·                  Patah tulang adalah terputusnya hubungan normal suatu tulangatau tulang rawan yang disebabkan oleh kekerasan.(Oswari, 2000 :144)
·                  Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atautulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. (Mansjoer,2000 : 42).
·         Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang ditentukan sesuai jenis dan luasnya. ( Smeltzer. 2001: 2357 )

B.ETIOLOGI
Penyebab fraktur / patah tulang menurut (Long, 1996 : 367) adalah :
a. Benturan dan cedera (jatuh pada kecelakaan)
b.Fraktur patologik (kelemahan hilang akibat penyakit kanker,osteophorosis) 
c.Patah karena letih
d.Patah karena tulang tidak dapat mengabsorbsi energi karenaberjalan terlalu jauh.
Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu :
a. Cedera traumatik . Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh :
1) Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulangsehingga tulang pata secara spontan. Pemukulan biasanyamenyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulitdiatasnya.
2)  Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauhdari lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur danmenyebabkan fraktur klavikula
.3) Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dariotot yang kuat.
 b.Fraktur Patologik
Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakitdimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut :
1) Tumor tulang (jinak atau ganas) : pertumbuhan jaringan baruyang tidak terkendali dan progresif.
2) Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibatinfeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yangprogresif, lambat dan sakit nyeri.
3) Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain,biasanya disebabkan oleh defisiensi diet, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah.
c. Secara spontan : disebabkan oleh stress tulang yang terusmenerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran.Etiologi Fraktur ada dua jenis, yaitu :
1. Trauma langsung, yaitu : fraktur yang terjadi karena mendapat rudapaksa, misalnya benturan atau pukulan yang mengakibatkanpatah tulang.
2. Trauma tidak langsung, yaitu : bila fraktur terjadi, bagian tulangmendapat rudapaksa dan mengakibatkan fraktur lain disekitarbagian yang mendapat rudapaksa tersebut dan juga karenapenyakit primer seperti osteoporosis dan osteosarkoma.Dari etiologi yang dapat menyebabkan fraktur dibagi menjadidua yaitu fraktur tertutup dan frkatur terbuka. Pada fraktur tertutupakan terjadi kerusakan pada kanalis havers dan jaringan lunak diareafraktur, akibat kerusakan jaringan tersebut akan terbentuk bekuan darah dan benang-benang fibrin serta hematoma yang akanmembentuk jaringan nekrosis. Maka terjadilah respon informasiinformasi fibroblast dan kapiler-kapiler baru tumbuh dan membentuk jaringan granulasi. Pada bagian ujung periosteum-periosteum,endeosteum dan sumsum tulang akan mensuplai osteoblast,kemudian osteoblast berproliferasi membentuk fibrokartilago,kartilago hialin dan jaringan penunjang fibrosa. Selanjutnya akandibentuk fiber-fiber kartilago dan matriks tulang yangmenghubungkan dua sisi fragmen tulang yang rusak, sehingga terjadiosteogenesis dengan cepat sampai terbentuknya jaringan granulasi.Sedangkan pada fraktur terbuka terjadi robekan pada kulit danpembuluh darah, maka terjadilah perdarahan, darah akan banyak.

C.      KLASIFIKASI FRAKTUR
v  Fraktur berdasarkan garis patah tulang
a.         Fraktur tranfersal
Fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadapsumbu panjang ( menyilang )
b.         Fraktur oblik
fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap tulang ( miring )
c.         Frakturspiral / rotai
fraktur yang timbul akibat torsi pada ekstrimitas ( melingkari tulang )
d.        Fraktur tranferse
fraktur yang patahnya meyilang.
v  Fraktur menurut bantuk tulang
a.         Komplit fraktur
Patah tulang yang luas sehingga tulang terbagi menjadi dua bagian dan garis patahnya menyebrang dari satu sisi ke sisi lain.sehingga mengenai keseluruh kortek.
b.         Incomplit fraktur
patah tulang dengan gris patah tidak menyebrang sehingga mengenai kortek tepi masih ada kortek yang utuh.
c.         Fraktur tertutup
terjadi bila tidak ada hubungan antara framen tulang dengan dunia luar.
d.        Fraktur terbuka
terjadi bila terdapat hubungan antra fragmen tulang denga dunia luar.
Fraktur terbuka ada tiga derajat
Ø  Derajat 1
luka kurang dari 1 cm, kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka remuk, fraktur sederhana, tranversal, oblik atau komuniti ringan, kontaminasi minimal.
Ø  Derajat 2
Luka ringan dari 1 cm, kerusakan jaringan lunak tidak luas,fraktur komuniti sedang, kontaminasi sedang.
Ø  Derajat 3
Terjadi kerusakan lunak yang luas meliputi strutur kulit otot,neurovaskular, kontaminasi derajattinggi.
e.         Komminutid fraktur
Terputusnya keutuhan jaringan dimana terdapat dua fragmen tulang.

D.           GAMBARAN KLINIS 

v  Nyeri terjadi pada patah tulang traumatic karena terjadi cidera jaringan lunak.
v  Pembengkakan disekitar fraktur.
v  Terjadi gangguan sensasi/rasa semutan yang mengisyaratkan kerusakan syaraf.
v  Syok disebabkan karena rasa nyeri hebat dan kehilangan darah atu jaringan yang rusak.
v  Pada fraktur terbuka biasnya terdapat luka.

E.            PEMERIKSAAN PENUNJANG

1.      Pemeriksaan laboratorium
q  kalsium dalam serum
q  fosfor dalam serum
q  hb/ht
2.      Pemeriksaan radiology
q   Rongsen: untuk menentukan lokasi, luasnya fraktur.
q   Scan tulang: untuk memperlihatkan fraktur digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.           
q   Arteriogram dilakukan bila vaskuler dicurigai

F.            PATOFISIOLOGI

Trauma, degeneratif, dan stress tulang dapat menyebabkan diskotinuitas jaringan tulang.. kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma, tulang akan menjadi patah apabila tertekan sampai titk batas tulang, sampai terjadi interupsi dari kontinuitas tulang, biasanya fraktur disertai cidera jringan diseputarnya yaitu, ligamen otot, tendon, pembuluh darah dan persendian.
G.           FOKUS PENGKAJIAN
q  Pernapasan
pasien tidak mengalami gangguan pola napas.
q  Aktifitas/istirahat
Tanda: pembengkakan jaringan nyeri, keterbatasan/kehilanga fungsi pada bagian yang terkena.
q  Sirkulasi
Tanda: - penurunan atau tidak ada nadi pada daerah yang terkena.
            - Pengisian kapiler lambat.
            - Pembengkakan pada jaringan yang cidera.
            - Luka pada bagian yang terkena.
q  Neurosensori
Gejala: hilang rasa, semutan.
Tanda: terlihat kelemahan/hilang fungsi.
q  Nyeri/kenyamanan
Gejala: - Nyeri tiba-tiba pada sat cidera.
            - Nyeri bertambah pada saat bergerak.
            - Kesadaran compos metis.
H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.        Gangguan rasa nyaman : nyeri b.d geseran pergerakan fragmen tulang.
2.        Kerusakan mobilitas fisik b.d nyeri, kelemahan akibat kerusakan rangka neuromuskuler.
3.        Gangguan perfusi perifer b.d berkurangnya aliran darah akibat adanya trauma jaringan tulang.
4.        Kerusakan integritas kulit b.d luka akibat fraktur terbuka.
5.        Resiko tinggi infeksi b.d masuknya kuman bakteri akibat luka fraktur terbuka.
I. INTERVENSI
1.      Gangguan rasa nyaman : nyeri b.d geseran pergerakan fragmen tulang.
Tujuan : Gangguan rasa nyaman dapat teratasi.
Kriteria hasil : - Pasien tidak mengeluh nyeri
                        - Pembengkakan hilang              
                        - Otot relaksasi
Intervensi :
Ø  Pertahankan tirah baring sampai fraktur berkurang.
Ras : Immobilisasi dapat mengurangi nyeri dan spasme otot.
Ø  Kaji nyeri baik lokasi, karakteristik dan skala nyeri.
Ras : Mempengaruhi pilihan atau pengawasan keefektifan intervensi. Tingkat intensitas dapat mempengaruhi persepsi / reaksi terhadap nyeri.
Ø  Dorong menggunakan latihan nafas dalam , imajinasai visual, dan sentuhan terapeutik.
Ras : meningkatkan kontrol dan kemampuan koping dalam manajemen nyeri
Ø  Tinggikan dan dukung ekstrimitas yang terkena.
Ras : Meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema, dan menurunkan nyeri.
Ø  Berikan penjelasan kepada pasien setiap prosedur yang akan dilakukan.
Ras : Mengurangi kecemasan dan sensasi nyeri.
Kolaborasi :
Ø  Lakukan kompres dingin sesuai keperluan pada 24-28 jam pertama.
Ras:  Menurunkan edema, pembentukan hematoma, menurunkan sensasi nyeri.
Ø  Beri obat analgetik
Ras : Mengurangi nyeri.
2.      Kerusakan mobilitas fisik b.d nyeri, kelemahan akibat kerusakan rangka neuromuskuler.
Tujuan : Gangguan pergerakan mobilitas fisik dapat diatasi.
Kriteria hasil : -  Meningkatkan / mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi.
      -  Meningkatkan kekuatan dan fungsi yang sakit.
      -  Menunjukan teknik yang memampukan melakukan aktivitas.
Intervensi :
Ø  Kaji gangguan mobilitas fisik yang dihasilkan oleh cidera atau pengobatan dan memperhatikan persepsi pasien terhadap immobilisasi.
Ras : Pasien dibatasi oleh persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi / intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan.
Ø  Instruksikan [asien untuk membantu dalam rentak gerak pasif / aktif pada ekstrimitas yang sakit dan yang tidak sakit.
Ras : Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi.
Ø  Memberikan papan kaki berat pergelangan gulungan dan trokanter yang sesuai.
Ras : Berguna untuk mempertahankan posisi fungsional ekstrimitas, tangan kaki, dan mencegah komplikasi.
Ø  Ubah posisi secara periodic.
Ras : Mencegah komplikasi kulit / pernapasan.
Kolaborasi :
Ø  Konsultasi ahli fisioterapi.
3.      Gangguan perfusi perifer b.d berkurangnya aliran darah akibat adanya trauma jaringan tulang.
Tujuan : Perfusi perifer dapat dipertahankan.
Kriteria hasil : - Kulit hangat sensori normal.
                        - Pengisian kapiler < 2 detik.
Intervensi :
Ø  Kaji aliran kapiler, warna kulit, dan kehangatan distal pada fraktur.
Ras : Kembalinya warna harus cepat. Warna kulit putih menunjukan gangguan arterial. Sianosis diduga ada gangguan vena.
Ø  Awasi TTV. Perhatikan tanda-tanda pucat / sianosis umum, kulit dingin, perubahan mental.
Ras : Ketidakadekuatan volume sirkulasi akan mempengaruhi sistem perfusi jaringan.
Ø  Lepaskan perhiasan dari ekstrimitas yang sakit.
Ras : Dapat membendung sirkulasi bila terjadi edema.
Ø  Tes sensasi saraf perifer dengan menusuk pada kedua selaput antara ibu jari pertama dan kedua. Kaji kemampuan untuk dorso flexi ibu jari bila di indikasikan.
Ras : Panjang dan posisi saraf perifer meningkatkan resiko cidera pada adanya fraktur kaki.
Ø  Lakukan pengkajian neuromuskuler. Perhatikan fungsi motor / sensori. Minta pasien melokalisasi nyeri / ketidaknyamanan.
Ras : Gangguan rasa bebas, kesemutan, peningkatan / penyebaran nyeri, terjadi. Bila terjadi pada saat saraf tidak adekuat / rusak.
Kolaborasi :
Ø  Berikan kompres es sekitar fraktur sesuai indikasi.
      Ras : Menurunkan edema, yang dapat mengganggu sirkulasi.
Ø  Pemeriksaan Hb / Ht.
Ø  Berikan obat sesuai program.
Ø  Berikan kaos kaki anti embolisme.
Ø  Persiapan operasi.
4.      Kerusakan integritas kulit b.d luka akibat fraktur terbuka.
Tujuan : Menyatakan ketidaknyamanan hilang dan mencapai penyembuhan luka sesuai waktu.
Intervensi :
Ø  Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan pendarahan, perubahan warna.
Ras : Untuk memberi informasi tentang sirkulasi.
Ø  Masase kulit dan penonjolan tulang. Pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerutan.
Ras : Menurunkan tekanan pada area yang peka dan resiko kerusakan kulit.
Ø  Pertahankan ekstrimitas yang fraktur tinggi dan berikan kompres es.
Ras : Untuk mengurangi pembengkakan.
Ø  Monitor status neurovaskuler dari ekstrimitas yang sakit tiap 2 jam selama 24 jam pertama kemudian setiap 4 jam.
Ras : Untuk mendeteksi manifestasi dini dari sindrom kompartemen.
Kolaborasi :
Ø  Gunakan tempat tidur busa, bulu domba, batu apung, atau kasur udara sesuai indikasi.
5.      Resiko tinggi infeksi b.d masuknya kuman / bakteri akibat luka fraktur terbuka.
Tujuan : infeksi tidak terjadi.
Kriteria hasil : - Penyembuhan luka sempurna
      - Tidak ada tanda infeksi.
      - Bagian yang luka atau fraktur dapat berfungsi seperti semula.
Intervensi :
Ø  Observasi adanya tanda-tanda infeksi pada lokasi luka ( kemerahan, bengkak, dan rasa sakit ).
Ras : Mengetahui sedini mungkin adanya tanda-tanda infeksi.
Ø  Awasi TTV terutama suhu.
Ras : Peningkatan sushu dapat sebagai gejala infeksi.
Ø  Laukan perawatan luka steril.
Ras : Mencegah infeksi.
Ø  Berikan toksord tetanus pada fraktur terbuka
Ras : Untuk mencegah tetanus karena luka terbuka bisa cenderung tetanus.
Kolaborasi :
Ø  Operasi debradeamant untuk membuang jaringan nekrotik.
Ø  Pemberian nekrotik.
Ø  Observasi hasil tindakan invasif
Ø  Cek darah terutama pada kadar leukositnya.

Referensi

Ø  A. price, Sylvia Anderson.2005. Patofisiologi. Konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi 6. Jakarta : EGC.
Ø  Nursalim, Agus S.1997. Asuhan Keperawatan Pasien Tn. Ym. Dengan Fraktur Fremur. Gombong : AKPER.
Ø  Doenges, 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
Ø  Engram, Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal – Bedah.
Jakarta : EGC.
Ø  Rita, Wahidi. dkk. 1996. Nursing Care In Emergency. Jakarta : FKUI.
Ø  Smeltzer, Suzanne. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal- Bedah. Brunner dan Suddart. Jakarta : EGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar