A. DEFINISI
-
Tumor paru merupakan keganasan pada
jaringan paru (Price, Patofisiologi, 1995).
-
Kanker paru merupakan abnormalitas dari
sel – sel yang mengalami proliferasi
dalam paru (Underwood, Patologi, 2000).
-
Kanker paru adalah pertumbuhan sel-sel kanker yang
tidak dapat terkendali dalam jaringan paru yang dapat disebabkan oleh sejumlah
karsinogen lingkungan terutama asap rokok.
(Ilmu Penyakit Dalam, 2001).
B. PATOFISIOLOGI
Dari
etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan cilia
hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya
pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia,hyperplasia dan displasia.
Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia, hyperplasia dan displasia
menembus ruang pleura, biasa timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi
langsung pada kosta dan korpus vertebra.
Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang
terbesar. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti
dengan supurasi di bagian distal. Gejala – gejala yang timbul dapat berupa batuk, hemoptysis, dispneu, demam, dan
dingin.Wheezing unilateral dapat terdengan pada auskultasi. Pada stadium
lanjut, penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya metastase, khususnya
pada hati. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur – struktur terdekat
seperti kelenjar limfe, dinding esofagus, pericardium, otak, tulang rangka.
C. ETIOLOGI
Dalam Brunner & Suddart di katakan bahwa
penyebab pasti kanker paru-paru belum di ketahui, namun banyak faktor resiko
yang dapat mempengaruhi terjadinya kanker paru-paru belum di ketahui, namun
banyak faktor resiko yang dapat mempengaruhi terjadinya kanker paru-paru. Faktor-faktor
resiko terjadinya kanker paru-paru, yaitu :
1. Merokok.
Tak diragukan lagi merupakan faktor
utama. Suatu hubungan statistik yang defenitif telah ditegakkan antara perokok
berat (lebih dari dua puluh batang sehari) dari kanker paru (karsinoma
bronkogenik). Perokok seperti ini mempunyai kecenderung sepuluh kali lebih
besar dari pada perokok ringan. Selanjutnya orang perokok berat yang sebelumnya
dan telah meninggalkan kebiasaannya akan kembali ke pola resiko bukan perokok dalam
waktu sekitar 10 tahun. Hidrokarbon karsinogenik telah ditemukan dalam tembakau
rokok yang jika dikenakan pada kulit hewan, menimbulkan tumor.
2. Iradiasi.
Insiden karsinoma paru yang tinggi pada
penambang kobalt di Schneeberg dan penambang radium di Joachimsthal (lebih dari
50 % meninggal akibat kanker paru) berkaitan dengan adanya bahan radioaktif
dalam bentuk radon. Bahan ini diduga merupakan agen etiologi operatif.
3. Kanker
paru akibat kerja.
Terdapat insiden yang tinggi dari
pekerja yang terpapar dengan karbonil nikel (pelebur nikel) dan arsenic
(pembasmi rumput). Pekerja pemecah hematite (paru – paru hematite) dan orang –
orang yang bekerja dengan asbestos dan dengan kromat juga mengalami peningkatan
insiden.
4. Polusi
udara.
Mereka yang tinggal di kota mempunyai
angka kanker paru yang lebih tinggi dari pada mereka yang tinggal di desa dan
walaupun telah diketahui adanya karsinogen dari industri dan uap diesel dalam
atmosfer di kota. ( Thomson, Catatan Kuliah Patologi,1997).
5. Genetik.
Terdapat perubahan/ mutasi beberapa gen
yang berperan dalam kanker paru, yakni :
a. Proton
oncogen.
b. Tumor
suppressor gene.
c. Gene
encoding enzyme.
Teori Onkogenesis.
Terjadinya kanker paru didasari oleh
tampilnya gen suppresor tumor dalam genom (onkogen). Adanya inisiator mengubah
gen supresor tumor dengan cara menghilangkan (delesi/del) atau penyisipan
(insersi/ inS) sebagian susunan pasangan basanya, tampilnya gen erbB1 dan atau
neu/erbB2 berperan dalam anti apoptosis (mekanisme sel untuk mati secara
alamiah- programmed cell death).
Perubahan tampilan gen kasus ini menyebabkan sel sasaran dalam hal ini sel paru
berubah menjadi sel kanker dengan sifat pertumbuhan yang autonom. Dengan
demikian kanker merupakan penyakit genetic yang pada permulaan terbatas pada
sel sasaran kemudian menjadi agresif pada jaringan sekitarnya.
Inisitor
Ekspansi/
metastasis
6. Diet.
Dilaporkan bahwa rendahnya konsumsi
betakaroten, seleniumdan vitamin A menyebabkan tingginya resiko terkena kanker
paru. (Ilmu Penyakit Dalam, 2001).
D. MANIFESTASI KLINIS
1. Gejala
awal.
Stridor
lokal dan dispnea ringan yang mungkin disebabkan oleh obstruksi bronkus.
2. Gejala
umum.
a. Batuk
Kemungkinan
akibat iritasi yang disebabkan oleh massa tumor. Batuk mulai sebagai batuk
kering tanpa membentuk sputum, tetapi berkembang sampai titik dimana dibentuk
sputum yang kental dan purulen dalam berespon terhadap infeksi sekunder.
b. Hemoptisis
Sputum
bersemu darah karena sputum melalui permukaan tumor yang mengalami ulserasi.
c. Anoreksia,
lelah, berkurangnya berat badan.
E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.
Radiologi.
a.
Foto thorax posterior – anterior (PA)
dan leteral serta Tomografi dada.
Merupakan
pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker paru.
Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi. Dapat menyatakan massa udara pada
bagian hilus, effuse pleural, atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra.
b. Bronkhografi.
Untuk
melihat tumor di percabangan bronkus.
2.
Laboratorium.
a. Sitologi
(sputum, pleural, atau nodus limfe).
Dilakukan
untuk mengkaji adanya/ tahap karsinoma.
b. Pemeriksaan
fungsi paru dan GDA
Dapat
dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi kebutuhan ventilasi.
c. Tes
kulit, jumlah absolute limfosit.
Dapat
dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum pada kanker paru).
3.
Histopatologi.
a. Bronkoskopi.
Memungkinkan
visualisasi, pencucian bagian,dan pembersihan sitologi lesi (besarnya karsinoma
bronkogenik dapat diketahui).
b. Biopsi
Trans Torakal (TTB).
Biopsi
dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran < 2 cm,
sensitivitasnya mencapai 90 – 95 %.
c. Torakoskopi.
Biopsi
tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan cara torakoskopi.
d. Mediastinosopi.
Untuk
mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang terlibat.
e. Torakotomi.
Totakotomi
untuk diagnostic kanker paru dikerjakan bila bermacam – macam prosedur non
invasif dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor.
4.
Pencitraan.
a. CT-Scanning,
untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura.
b. MRI,
untuk menunjukkan keadaan mediastinum.
F.
PENATALAKSANAAN
Tujuan pengobatan kanker dapat berupa :
a. Kuratif
Memperpanjang
masa bebas penyakit dan meningkatkan angka harapan hidup klien.
b. Paliatif.
Mengurangi
dampak kanker, meningkatkan kualitas hidup.
c. Rawat
rumah (Hospice care) pada kasus terminal.
Mengurangi
dampak fisis maupun psikologis kanker baik pada pasien maupun keluarga.
d. Supotif.
Menunjang
pengobatan kuratif, paliatif dan terminal sepertia pemberian nutrisi, tranfusi
darah dan komponen darah, obat anti nyeri dan anti infeksi. (Ilmu Penyakit
Dalam, 2001 dan Doenges, rencana Asuhan Keperawatan, 2000)
- Pembedahan.
Tujuan pada pembedahan kanker paru sama seperti
penyakit paru lain, untuk mengankat semua jaringan yang sakit sementara
mempertahankan sebanyak mungkin fungsi paru – paru yang
tidak terkena kanker.
1. Toraktomi
eksplorasi.
Untuk
mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru atau toraks khususnya
karsinoma, untuk melakukan biopsy.
2. Pneumonektomi
pengangkatan paru).
Karsinoma
bronkogenik bilaman dengan lobektomi tidak semua lesi bisa diangkat.
3. Lobektomi
(pengangkatan lobus paru).
Karsinoma
bronkogenik yang terbatas pada satu lobus, bronkiaktesis bleb atau bula
emfisematosa; abses paru; infeksi jamur; tumor jinak tuberkulois.
4. Resesi
segmental.
Merupakan
pengankatan satau atau lebih segmen paru.
5. Resesi
baji.
Tumor
jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau penyakit peradangan yang
terlokalisir. Merupakan pengangkatan dari permukaan paru – paru berbentuk baji
(potongan es).
6. Dekortikasi.
Merupakan
pengangkatan bahan – bahan fibrin dari pleura viscelaris
- Radiasi
Pada beberapa kasus, radioterapi dilakukan sebagai
pengobatan kuratif dan bisa juga sebagai terapi adjuvant/ paliatif pada tumor
dengan komplikasi, seperti mengurangi efek obstruksi/ penekanan terhadap
pembuluh darah/ bronkus.
- Kemoterafi.
Kemoterapi digunakan untuk mengganggu pola
pertumbuhan tumor, untuk menangani pasien dengan tumor paru sel kecil atau
dengan metastasi luas serta untuk melengkapi bedah atau terapi radiasi.
G. PENGKAJIAN
1.
Preoperasi (Doenges, Rencana Asuhan
Keperawatan,1999).
1).
Aktivitas/ istirahat
Gejala : Kelemahan, ketidakmampuan
mempertahankan kebiasaan rutin, dispnea karena aktivitas.
Tanda : Kelesuan ( biasanya tahap lanjut).
2).
Sirkulasi
Gejala : JVD (obstruksi vena kava). Bunyi
jantung : gesekan pericardial (menunjukkan efusi). Takikardi/ disritmia.
3).
Integritas ego
Gejala : Perasaan takut. Takut hasil
pembedahan, menolak kondisi yang berat/ potensi keganasan. Tanda : Kegelisahan, insomnia, pertanyaan
yang diulang – ulang.
4).
Eliminasi
Gejala : Diare yang hilang timbul
(karsinoma sel kecil). Peningkatan frekuensi/ jumlah urine
(ketidakseimbangan hormonal, tumor
epidermoid).
5).
Makanan/ cairan
Gejala : Penurunan berat badan, nafsu makan
buruk, penurunan masukan makanan, Kesulitan menelan, haus/ peningkatan masukan
cairan.
Tanda : Kurus, atau penampilan kurang
berbobot (tahap lanjut), Edema wajah/ leher, dada punggung (obstruksi vena
kava), edema wajah/ periorbital (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel
kecil), Glukosa dalam urine (ketidakseimbangan hormonal, tumor epidermoid).
6).
Nyeri/ kenyamanan
Gejala : Nyeri dada (tidak biasanya ada
pada tahap dini dan tidak selalu pada
tahap lanjut) dimana dapat/ tidak dapat dipengaruhi oleh perubahan posisi. Nyeri
bahu/ tangan (khususnya pada sel besar atau adenokarsinoma). Nyeri abdomen
hilang timbul.
7).
Pernafasan
Gejala : Batuk ringan atau perubahan pola
batuk dari biasanya dan atau produksi sputum, nafas pendek, pekerja yang
terpajan polutan, debu industry, Serak, paralysis pita suara, riwayat merokok.
Tanda : Dispnea, meningkat dengan kerja, peningkatan
fremitus taktil (menunjukkan konsolidasi), cracels/ mengi pada inspirasi atau
ekspirasi (gangguan aliran udara), krekels/ mengi menetap; pentimpangan trakea
( area yang mengalami lesi), Hemoptisis.
8).
Keamanan
Tanda : Demam mungkin ada (sel besar atau
karsinoma), Kemerahan, kulit pucat (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel
kecil).
9).
Seksualitas
Tanda : Ginekomastia (perubahan hormone
neoplastik, karsinoma sel besar), Amenorea/ impotent (ketidakseimbangan
hormonal, karsinoma sel kecil)
10).
Penyuluhan
Gejala : Faktor resiko keluarga, kanker (khususnya
paru), tuberculosis, Kegagalan untuk membaik.
2.
Pascaoperasi (Doenges, Rencana Asuhan
Keperawatan, 1999).
a. Karakteristik
dan kedalaman pernafasan dan warna kulit pasien.
b. Frekuensi
dan irama jantung.
c. Pemeriksaan laboratorium yang terkait (GDA.
Elektolit serum, Hb dan Ht).
d. Pemantauan
tekanan vena sentral.
e. Status
nutrisi.
f. Status mobilisasi ekstremitas khususnya
ekstremitas atas di sisi yang di operasi.
g. Kondisi
dan karakteristik water seal drainase.
1).
Aktivitas atau istirahat
Gejala
: Perubahan aktivitas, frekuensi tidur berkurang.
2).
Sirkulasi
Tanda
: denyut nadi cepat, tekanan darah tinggi.
3).
Eliminasi
Gejala
: menurunnya frekuensi eliminasi BAB
Tanda : Kateter urinarius terpasang/ tidak,
karakteristik urine, Bising usus, samar atau jelas.
4).
Makanan dan cairan
Gejala
: Mual atau muntah
5).
Neurosensori
Gejala : Gangguan gerakan dan sensasi di bawah tingkat
anastesi.
6).
Nyeri dan ketidaknyamanan
Gejala : Keluhan nyeri, karakteristik nyeri, Nyeri,
ketidaknyamanan dari berbagai sumber misalnya insisi atau efek – efek anastesi.
H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
Kerusakan pertukaran gas berhubungan
denggan Hipoventilasi.
2.
Bersihan jalan nafas tidak efektif
berhubungan dengan kehilangan fungsi silia jalan nafas, peningkatan jumlah/
viskositas sekret paru, meningkatnya tahanan jalan nafas
3.
Ketakutan/Anxietas berhubungan dengan
krisis situasi, ancaman untuk/ perubahan status kesehatan, takut mati, faktor
psikologis.
4.
Kurang pengetahuan mengenai kondisi,
tindakan, prognosis berhubungan dengan Kurang informasi, kesalahan interpretasi
informasi, kurang mengingat.
I.
INTERVENSI
KEPERAWATAN
1).
Diagnosa Keperawatan :Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan hipoventilasi.
Kriteria
hasil :
- Menunjukkan
perbaikan ventilasi dan oksigenisi adekuat dengan GDA dalam rentang normal
dan
bebas gejala distress pernafasan.
- Berpartisipasi
dalam program pengobatan, dalam kemampuan/ situasi.
Intervensi
:
a) Kaji
status pernafasan dengan sering, catat peningkatan frekuensi atau upaya
pernafasan atau perubahan pola nafas.
Rasional : Dispnea merupakan mekanisme kompensasi
adanya tahanan jalan nafas.
b) Catat
ada atau tidak adanya bunyi tambahan dan
adanya bunyi tambahan, misalnya krekels, mengi.
Rasional : Bunyi nafas dapat menurun, tidak sama
atau tak ada pada area yang sakit.Krekels adalah bukti peningkatan cairan dalam
area jaringan sebagai akibat peningkatan permeabilitas membrane alveolar-kapiler.
Mengi adalah bukti adanya tahanan atau penyempitan jalan nafas sehubungan
dengan mukus/ edema serta tumor.
c) Kaji
adanya sianosis
Rasional : Penurunan oksigenasi bermakna terjadi
sebelum sianosis. Sianosis sentral dari “organ” hangat contoh, lidah, bibir dan
daun telinga adalah paling indikatif.
d) Kolaborasi
pemberian oksigen lembab sesuai indikasi
Rasional :
Memaksimalkan sediaan oksigen untuk pertukaran.
e) Awasi
atau gambarkan seri GDA.
Rasional : Menunjukkan ventilasi atau oksigenasi.
Digunakan sebagai dasar evaluasi keefektifan terapi atau indikator kebutuhan
perubahan terapi.
2). Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungn
dengan kehilangan fungsi silia jalan nafas,
Peningkatan jumlah/ viskositas sekret paru, meningkatnya tahanan jalan
nafas
Kriteria
hasil :
-
Menyatakan/ menunjukkan hilangnya dispnea.
-
Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih
-
Mengeluarkan sekret tanpa kesulitan.
-
Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki/ mempertahankan bersiahn jalan nafas.
Intervensi
:
a) Catat
perubahan upaya dan pola bernafas.
Rasional : Penggunaan otot interkostal/ abdominal
dan pelebaran nasal menunjukkan peningkatan upaya bernafas.
b) Observasi
penurunan ekspensi dinding dada dan adanya.
Rasional : Ekspansi dad terbatas atau tidak sama
sehubungan dengan akumulasi cairan, edema, dan sekret dalam seksi lobus.
c) Catat
karakteristik batuk (misalnya, menetap, efektif, tak efektif), juga produksi
dan karakteristik sputum.
Rasional : Karakteristik batuk dapat berubah
tergantung pada penyebab/ etiologi gagal perbatasan. Sputum bila ada mungkin
banyak, kental, berdarah, adan/ atau purulen.
d)
Pertahankan posisi tubuh/ kepala tepat dan gunakan alat jalan nafas
sesuai kebutuhan.
Rasional : Memudahkan memelihara jalan nafas atas
paten bila jalan nafas pasein dipengaruhi.
e) Kolaborasi pemberian bronkodilator, contoh
aminofilin, albuterol dll. Awasi untuk efek samping merugikan dari obat, contoh
takikardi, hipertensi, tremor, insomnia.
Rasional : Obat diberikan untuk menghilangkan
spasme bronkus, menurunkan viskositas sekret, memperbaiki ventilasi, dan
memudahkan pembuangan sekret. Memerlukan perubahan dosis/ pilihan obat.
3). Ketakutan/Anxietas berhubungan dengan krisis
situasi, ancaman untuk/ perubahan status kesehatan, takut mati, faktor
psikologis.
Kriteria
hasil :
- Menyatakan kesadaran terhadap ansietas dan cara
sehat untuk mengatasinya.
- Mengakui dan mendiskusikan takut.
- Tampak
rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatangani.
- Menunjukkan
pemecahan masalah dan pengunaan sumber efektif.
Intervensi
:
a) Observasi
peningkatan gelisah, emosi labil.
Rasional : Memburuknya penyakit dapat menyebabkan
atau meningkatkan ansietas.
b)
Pertahankan lingkungan tenang dengan sedikit rangsangan.
Rasional : Menurunkan ansietas dengan meningkatkan
relaksasi dan penghematan energi.
c)
Tunjukkan/ Bantu dengan teknik relaksasi, meditasi, bimbingan imajinasi.
Rasional : Memberikan kesempatan untuk pasien
menangani ansietasnya sendiri dan merasa terkontrol.
d)
Identifikasi perspsi klien terhadap ancaman yang ada oleh situasi.
Rasional :
Membantu pengenalan ansietas/ takut dan mengidentifikasi tindakan yang dapat
membantu untuk individu.
e) Dorong
pasien untuk mengakui dan menyatakan perasaan.
Rasional : Langkah awal dalam mengatasi perasaan
adalah terhadap identifikasi dan ekspresi. Mendorong penerimaan situasi dan
kemampuan diri untuk mengatasi.
4). Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan,
prognosis berhubungan Kurang informasi, Kesalahan interpretasi informasi, Kurang
mengingat.
Kriteria
hasil :
- Menjelaskan
hubungan antara proses penyakit dan terapi.
- Menggambarkan/
menyatakan diet, obat, dan program aktivitas.
- Mengidentifikasi
dengan benar tanda dan gejala yang memerlukan perhatian medik.
- Membuat
perencanaan untuk perawatan lanjut.
Intervensi
:
a) Dorong
belajar untuk memenuhi kebutuhan pasien. Beriak informasi dalam cara yang
jelas/ ringkas.
Rasional : Sembuh dari gangguan gagal paru dapat
sangat menghambat lingkup perhatian pasien, konsentrasi dan energi untuk
penerimaan informasi/ tugas baru.
b) Berikan
informasi verbal dan tertulis tentang obat
Rasional : Pemberian instruksi penggunaan obat
yang aman memmampukan pasien untuk mengikuti dengan tepat program pengobatan.
c) Kaji
konseling nutrisi tentang rencana makan; kebutuhan makanan kalori tinggi.
Rasional : Pasien dengan masalah pernafasan berat
biasanya mengalami penurunan berat badan dan anoreksia sehingga memerlukan
peningkatan nutrisi untuk menyembuhan.
d) Berikan
pedoman untuk aktivitas.
Rasional :
Pasien harus menghindari untuk terlalu lelah dan mengimbangi periode
istirahatdan aktivitas untuk meningkatkan regangan/ stamina dan mencegah
konsumsi/ kebutuhan oksigen berlebihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar