A. DEFINISI
Pneumothoraks adalah pengumpulan udara
dalam ruang potensial antara pleura visceral dan parietal. (Arif Mansjoer,
2000)
B. KLASIFIKASI
1. Berdasarkan
terjadinya yaitu artificial, traumatic dan spontan.
2. Berdasarkan
lokasinya, yaitu Pneumotoraks parietalis, mediastinalis dan basalis
3. Berdasarkan
derajat kolaps, yaitu Pneumotoraks totalis dan partialis.
4. Berdasarkan
jenis fistel.
Pneumotoraks terbuka.
Pneumotoraks dimana ada hubungan terbuka antara rongga pleura dan bronchus yang
merupakan dunia luar. Dalam keadaan ini tekanan intra pleura sama dengan
tekanan barometer (luar). Tekanan intra pleura disekitar nol (0) sesuai dengan
gerakan pernapasan. Pada waktu inspirasi tekanannya negatif dan pada waktu
ekspirasi positif (+ 2 ekspirasi dan – 2 inspirasi).
Pneumotoraks tertutup.
Rongga pleura tertutup tidak ada hubungan dengan dunia luar. Udara yang dulunya
ada di rongga pleura kemungkinan positif oleh karena diresorbsi dan tidak
adanya hubungan lagi dengan dunia luar, maka tekanan udara di rongga pleura
menjadi negatif. Tetapi paru belum mau berkembang penuh. Sehingga masih ada rongga
pleura yang tampak meskipun tekanannya sudah negatif (- 4 ekspirasi dan – 12
inspirasi). Pneumotoraks ventil. Merupakan pneumotoraks yang mempunyai tekanan
positif berhubung adanya fistel di pleura viseralis yang bersifat ventil. Udara
melalui bronchus terus ke percabangannya dan menuju ke arah pleura yang
terbuka. Pada waktu inspirasi udara masuk ke rongga pleura dimana pada
permulaan masih negatif. Pada waktu ekspirasi udara didalam rongga pleura yang
masuk itu tidak mau keluar melalui lubang yang terbuka tadi bahkan udara
ekspirasi yang mestinya dihembuskan keluar dapat masuk ke dalam rongga pleura,
apabila ada obstruksi di bronchus bagian proksimal dari fistel tersebut.
Sehingga tekanan pleura makin lama makin meningkat sehubungan dengan
berulangnya pernapasan. Udara masuk rongga pleura pada waktu ekspirasi oleh
karena udara ekspirasi mempunyai tekanan lebih tinggi dari rongga pleura,
lebih-lebih kalau penderita batuk-batuk, tekanan udara di bronchus lebih kuat
lagi dari ekspirasi biasa.
C. ETIOLOGI
-
Kebocoran dibagian paru yang berisi
udara melalui robekan atau pecahnya pleura. Robekan ini akan berhubungan dengan
bronchus.
-
Pelebaran dari alveoli dan pecahnya
septa-septa alveoli yang kemudian membentuk suatu bula di dekat suatu daerah proses
non spesifik atau granulomatous fibrosis
-
Valve mekanisme di distal dari bronchial
yang ada keradangan atau jaringan parut.
D. MANIFESTASI KLINIS
-
Sesak nafas
-
Nyeri
-
Batuk-batuk
-
Nafas tersengal-sengal
-
Diaphoresis
E. PATOFISIOLOGI
Paru-paru dibungkus
oleh pleura parietalis dan viseralis. Diantara pleura perietalis dan viseralis
terdapat cavum pleura. Cavum pleura normal berisi sedikit cairan serous
jaringan. Tekanan intrapleura selalu berupa tekanan negative. Pada udara
memasuki rongga pleura antara paru-paru dan dinding dada, hal ini dapat terjadi
secara spontan atau akibat trauma atau tak tembus. Pneumotoraks tertutup
disebabkan oleh suatu trauma tumpul yang menyebabkan fraktur kosta yang menusuk
membrane pleura atau oleh kompresi tiba-tiba pada kerangka kosta. Udara
memasuki ruang pleura meningkatkan tekanan intra pleura, yang menyebabkan
paru-paru kolaps (penyempitan).
Tension pneumotoraks
terjadi bilamana terdapat kebocoran udara ke dalam rongga pleura yang tidak
dapat keluar selama ekspirasi. Meskipun biasanya terjadi sebagai akibat
pneumotoraks tertutup, tension pneumotoraks pun bisa disebabkan oleh trauma
dada tembus. Akumulasi udara menimbulkan tekanan positif di rongga dada
mengakibatkan :
a. Paru-paru
di sisi yang terkena kolaps
b. Pergeseran
meorastinum ke arah sisi yang terkena
c. Kompresi
isi inporastinum (jantung dan pembuluh-pembuluh darah besar) menyebabkan
penurunan curah jantung dan penurunan venous return (William F, G. 2002).
F.
KOMPLIKASI
Atelektasis, ARDs,
infeksi, edema pulmonary, emboli paru, efusi pleura, empiema, emfisema,
penebalan pleura.
G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
X Foto dada :
a. Pada foto dada PA
terlihat pinggir paru yang kolaps berupa garis.
b. Mediastinal shift dapat dilihat pada foto PA atau fluoroskopi pada saat penderita inspirasi atau ekspirasi.
b. Mediastinal shift dapat dilihat pada foto PA atau fluoroskopi pada saat penderita inspirasi atau ekspirasi.
H. PENATALASAKSANAAN
a.
Pada ICS 5 atau 6 dilakukan pemasangan
WSD dengan memakai trokar.
b.
WSD dilepas bila paru sudah mengembang
dengan baik, tidak ada komplikasi dan setelah selang plastic atau diklem 24 jam
untuk membuktikan bahwa pneumothoraks sudah sembuh.
c.
Bila penderita sesak dapat diberikan
oksigen konsentrasi tinggi.
d.
Untuk megnobati nyeri dapat diberikan
analgetika seperti Antalgin 3 X 1 tablet atau analgetik kuat.
e.
Fisioterapi dapat diberikan karena dapat
mencegah retensi sputum.
f.
Apabila pengembangan paru agak lambat,
bias dilakukan penghisapan dengan tekanan 25-50 cm air.
g.
Pada pneumothoraks berulang dapat
dilakukan perlekatan kedua pleura dengan memakai bahan yang dapat menimbulkan
iritasi atau bahan sclerosing agent.
I.
PENGKAJIAN
1. Riwayat
keperawatan
Klien terdapat penyakit
paru, bila ditemukan adanya iritan pada paru yang meningkat maka mungkin
terdapat riwayat merokok. Penyakit yang sering ditemukan adalah pneumotoraks,
hemotoraks, pleural effusion atau empiema. Klien bisa juga ditemukan adanya riwayat
trauma dada yang mendadak yang memerlukan tindakan pembedahan.
2. Pemeriksaan
Adanya respirasi ireguler, takhipnea, pergeseran mediastinum, ekspansi dada asimetris. Adanya ronchi atau rales, suara nafas yang menurun, perkursi dada redup menunjukan adanya pleural effusion, sering ditemui sianosis perifer atau sentral, takikardia, hipotensi,dan nyeri dada pleural.
Adanya respirasi ireguler, takhipnea, pergeseran mediastinum, ekspansi dada asimetris. Adanya ronchi atau rales, suara nafas yang menurun, perkursi dada redup menunjukan adanya pleural effusion, sering ditemui sianosis perifer atau sentral, takikardia, hipotensi,dan nyeri dada pleural.
3. Faktor
perkembangan/psikososial
Klien mengalami
kecemasan, ketakutan terhadap nyeri, prosedur atau kematian, karena penyakit
atau tindakan. Persepsi dan pengalaman lampau klien terhadap tindakan ini atau
hospitalisasi akan mempengaruhi keadan psikososial klien.
4. Pengetahuan
klien dan keluarga
Pengkajian diarahkan
pada pengertian klien tentang tindakan WSD, tanda atau gejala yang menimbulkan
kondisi ini, tingkat pengetahuan, kesiapan dan kemauan untuk belajar.
J.
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan
pola nafas berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena
akumulasi udara atau cairan
2. Inefektif
bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan sekresi secret dan
penurunan reflek batuk akibat nyeri dan keletihan
3. Perubahan
kenyamanan : nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme
otot sekunder
K. INTERVENSI
a. Ketidakefektifan
pola nafas berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena
akumulasi udara atau cairan
Intervensi
:
1. Memonitor
TTV
2. Latih
pasien nafas dalam
3. Pertahankan
posisi nyaman biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur
4. Berikan
obat sesuai terapi
5. Observasi
pemasangan selang
b. Inefektif
bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan sekresi secret dan
penurunan reflek batuk akibat nyeri dan keletihan
Intervensi
:
1. Jelaskan
klien tentang kegunaan batuk efektif dan mengapa terdapat penumpukan secret di
saluran pernafasan
2. Ajarkan
klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk
3. Nafas
dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin
4. Lakukan
pernafasan diafragma
5. Tahan
nafas selama3-5 detik kemudian secara perlahan—lahan, keluarkan sebanyak
mungkin melalui mulut
6. Lakukan
nafas kedua, tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan dua batuk pendek dan
kuat
7. Auskultasi
paru sebelum dan sesudah klien batuk
8. Ajarkan
klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi
yang adekuat, meningkatkan masukan cairan 1000-1500 cc /hari bila tidak kontraindikasi
9. Dorong
atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk
10. Kolaborasi
dengan tim kesehatan lain : dokter, radiologi dan fisioterapi
c. Perubahan
kenyamanan : nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme
otot sekunder
Intervensi:
1. Kaji
skala nyeri, intensitas nyeri
2. Anjurkan
pasien untuk batuk dan nafas dalam
3. Catat
kemungkinan penyebab nyeri
4. Berikan
posisi yang nyaman
5. Berikan
obat sesuai terapi
DAFTAR PUSTAKA
Brunner dan suddarth.
2002. Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta : EGC
Wilkinson, J.M.2007.
Buku Saku Diagnosis Keperawatan
Robbin and Kumar, 2007.
Buku Ajar Patologi II
, Edisi 4 .Jakarta :EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar