Senin, 23 April 2012

Askep Pneumothoraks


A.  DEFINISI
Pneumothoraks adalah pengumpulan udara dalam ruang potensial antara pleura visceral dan parietal. (Arif Mansjoer, 2000)

B.  KLASIFIKASI
1.      Berdasarkan terjadinya yaitu artificial, traumatic dan spontan.
2.      Berdasarkan lokasinya, yaitu Pneumotoraks parietalis, mediastinalis dan basalis
3.      Berdasarkan derajat kolaps, yaitu Pneumotoraks totalis dan partialis.
4.      Berdasarkan jenis fistel.
Pneumotoraks terbuka. Pneumotoraks dimana ada hubungan terbuka antara rongga pleura dan bronchus yang merupakan dunia luar. Dalam keadaan ini tekanan intra pleura sama dengan tekanan barometer (luar). Tekanan intra pleura disekitar nol (0) sesuai dengan gerakan pernapasan. Pada waktu inspirasi tekanannya negatif dan pada waktu ekspirasi positif (+ 2 ekspirasi dan – 2 inspirasi).
Pneumotoraks tertutup. Rongga pleura tertutup tidak ada hubungan dengan dunia luar. Udara yang dulunya ada di rongga pleura kemungkinan positif oleh karena diresorbsi dan tidak adanya hubungan lagi dengan dunia luar, maka tekanan udara di rongga pleura menjadi negatif. Tetapi paru belum mau berkembang penuh. Sehingga masih ada rongga pleura yang tampak meskipun tekanannya sudah negatif (- 4 ekspirasi dan – 12 inspirasi). Pneumotoraks ventil. Merupakan pneumotoraks yang mempunyai tekanan positif berhubung adanya fistel di pleura viseralis yang bersifat ventil. Udara melalui bronchus terus ke percabangannya dan menuju ke arah pleura yang terbuka. Pada waktu inspirasi udara masuk ke rongga pleura dimana pada permulaan masih negatif. Pada waktu ekspirasi udara didalam rongga pleura yang masuk itu tidak mau keluar melalui lubang yang terbuka tadi bahkan udara ekspirasi yang mestinya dihembuskan keluar dapat masuk ke dalam rongga pleura, apabila ada obstruksi di bronchus bagian proksimal dari fistel tersebut. Sehingga tekanan pleura makin lama makin meningkat sehubungan dengan berulangnya pernapasan. Udara masuk rongga pleura pada waktu ekspirasi oleh karena udara ekspirasi mempunyai tekanan lebih tinggi dari rongga pleura, lebih-lebih kalau penderita batuk-batuk, tekanan udara di bronchus lebih kuat lagi dari ekspirasi biasa.

C.  ETIOLOGI
-          Kebocoran dibagian paru yang berisi udara melalui robekan atau pecahnya pleura. Robekan ini akan berhubungan dengan bronchus.
-          Pelebaran dari alveoli dan pecahnya septa-septa alveoli yang kemudian membentuk suatu bula di dekat suatu daerah proses non spesifik atau granulomatous fibrosis
-          Valve mekanisme di distal dari bronchial yang ada keradangan atau jaringan parut.

D.  MANIFESTASI KLINIS
-          Sesak nafas
-          Nyeri
-          Batuk-batuk
-          Nafas tersengal-sengal
-          Diaphoresis

E.  PATOFISIOLOGI
Paru-paru dibungkus oleh pleura parietalis dan viseralis. Diantara pleura perietalis dan viseralis terdapat cavum pleura. Cavum pleura normal berisi sedikit cairan serous jaringan. Tekanan intrapleura selalu berupa tekanan negative. Pada udara memasuki rongga pleura antara paru-paru dan dinding dada, hal ini dapat terjadi secara spontan atau akibat trauma atau tak tembus. Pneumotoraks tertutup disebabkan oleh suatu trauma tumpul yang menyebabkan fraktur kosta yang menusuk membrane pleura atau oleh kompresi tiba-tiba pada kerangka kosta. Udara memasuki ruang pleura meningkatkan tekanan intra pleura, yang menyebabkan paru-paru kolaps (penyempitan).
Tension pneumotoraks terjadi bilamana terdapat kebocoran udara ke dalam rongga pleura yang tidak dapat keluar selama ekspirasi. Meskipun biasanya terjadi sebagai akibat pneumotoraks tertutup, tension pneumotoraks pun bisa disebabkan oleh trauma dada tembus. Akumulasi udara menimbulkan tekanan positif di rongga dada mengakibatkan :
a.       Paru-paru di sisi yang terkena kolaps
b.      Pergeseran meorastinum ke arah sisi yang terkena
c.       Kompresi isi inporastinum (jantung dan pembuluh-pembuluh darah besar) menyebabkan penurunan curah jantung dan penurunan venous return (William F, G. 2002).

F.   KOMPLIKASI
Atelektasis, ARDs, infeksi, edema pulmonary, emboli paru, efusi pleura, empiema, emfisema, penebalan pleura.

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
X Foto dada :
a. Pada foto dada PA terlihat pinggir paru yang kolaps berupa garis.
b. Mediastinal shift dapat dilihat pada foto PA atau fluoroskopi pada saat penderita inspirasi atau ekspirasi.

H.  PENATALASAKSANAAN
a.       Pada ICS 5 atau 6 dilakukan pemasangan WSD dengan memakai trokar.
b.      WSD dilepas bila paru sudah mengembang dengan baik, tidak ada komplikasi dan setelah selang plastic atau diklem 24 jam untuk membuktikan bahwa pneumothoraks sudah sembuh.
c.       Bila penderita sesak dapat diberikan oksigen konsentrasi tinggi.
d.      Untuk megnobati nyeri dapat diberikan analgetika seperti Antalgin 3 X 1 tablet atau analgetik kuat.
e.      Fisioterapi dapat diberikan karena dapat mencegah retensi sputum.
f.        Apabila pengembangan paru agak lambat, bias dilakukan penghisapan dengan tekanan 25-50 cm air.
g.       Pada pneumothoraks berulang dapat dilakukan perlekatan kedua pleura dengan memakai bahan yang dapat menimbulkan iritasi atau bahan sclerosing agent.

I.     PENGKAJIAN
1.      Riwayat keperawatan
Klien terdapat penyakit paru, bila ditemukan adanya iritan pada paru yang meningkat maka mungkin terdapat riwayat merokok. Penyakit yang sering ditemukan adalah pneumotoraks, hemotoraks, pleural effusion atau empiema. Klien bisa juga ditemukan adanya riwayat trauma dada yang mendadak yang memerlukan tindakan pembedahan.
2.      Pemeriksaan
Adanya respirasi ireguler, takhipnea, pergeseran mediastinum, ekspansi dada asimetris. Adanya ronchi atau rales, suara nafas yang menurun, perkursi dada redup menunjukan adanya pleural effusion, sering ditemui sianosis perifer atau sentral, takikardia, hipotensi,dan nyeri dada pleural.
3.      Faktor perkembangan/psikososial
Klien mengalami kecemasan, ketakutan terhadap nyeri, prosedur atau kematian, karena penyakit atau tindakan. Persepsi dan pengalaman lampau klien terhadap tindakan ini atau hospitalisasi akan mempengaruhi keadan psikososial klien.
4.      Pengetahuan klien dan keluarga
Pengkajian diarahkan pada pengertian klien tentang tindakan WSD, tanda atau gejala yang menimbulkan kondisi ini, tingkat pengetahuan, kesiapan dan kemauan untuk belajar.

J.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.    Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena akumulasi udara atau cairan
2.    Inefektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan sekresi secret dan penurunan reflek batuk akibat nyeri dan keletihan
3.    Perubahan kenyamanan : nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder

K. INTERVENSI
a.       Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena akumulasi udara atau cairan
Intervensi :
1.      Memonitor TTV
2.      Latih pasien nafas dalam
3.      Pertahankan posisi nyaman biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur
4.      Berikan obat sesuai terapi
5.      Observasi pemasangan selang
b.      Inefektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan sekresi secret dan penurunan reflek batuk akibat nyeri dan keletihan
Intervensi :
1.      Jelaskan klien tentang kegunaan batuk efektif dan mengapa terdapat penumpukan secret di saluran pernafasan
2.      Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk
3.      Nafas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin
4.      Lakukan pernafasan diafragma
5.      Tahan nafas selama3-5 detik kemudian secara perlahan—lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut
6.      Lakukan nafas kedua, tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan dua batuk pendek dan kuat
7.      Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk
8.      Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat, meningkatkan masukan cairan 1000-1500 cc /hari bila tidak kontraindikasi
9.      Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk
10.  Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : dokter, radiologi dan fisioterapi
c.       Perubahan kenyamanan : nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder
Intervensi:
1.      Kaji skala nyeri, intensitas nyeri
2.      Anjurkan pasien untuk batuk dan nafas dalam
3.      Catat kemungkinan penyebab nyeri
4.      Berikan posisi yang nyaman
5.      Berikan obat sesuai terapi
























DAFTAR PUSTAKA
Brunner dan suddarth. 2002. Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta : EGC
Wilkinson, J.M.2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan
Robbin and Kumar, 2007. Buku Ajar Patologi II
, Edisi 4 .Jakarta :EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar